01 Maret 2016

Ulasan Buku: The Heart of Glass

Sampul
Judul : Jantung Kaca
Judul Asli : The Heart of Glass (Tales from the Five Kingdoms, #3)
Pengarang : Vivian French
Penerbit : Atria
Tahun : 2015
Dibaca : 1 Maret 2016
Rating : ★★★★

"Saat hidup Jiwa Sejati berakhir di sini
Jantung Raja Tertinggi 'kan berdetak sekali lagi
Dan kekuatan datang pada dia yang berkuasa
Rajanya para Raja akan kembali berjaya."
 

Buku ketiga serial Tales from the Five Kingdoms. Kau tahu, bagi pembaca buku seri, sebuah dilema bila tidak melanjutkan bacaannya hingga akhir. Andai kata seorang musafir, dia harus melanjutkan perjalanan hingga tempat yang dia tuju untuk mendapatkan satu hidayah. Oke. Nah lho, ini kok melantur ke mana-mana ya.

***

Gracie Gillypot dan Pangeran Marcus melakukan ekspedisi melacak-kurcaci. Ditemani dengan Marlon dan keponakannya, juga Gubble si troll, mereka bertualang tanpa kendala. Hingga Gracie tiba-tiba hilang dan membuat Pangeran Marcus panik. Bagaimana caranya mencari gadis itu di Rimba Muslihat yang penuh muslihat? Lalu apa hubungan mereka dengan jantung kaca milik Raja Troll?

***

Dilema. Lagi-lagi. Ketika buku-buku berseri terjemahan yang kaubaca dan ikuti putus di tengah-tengah dan tak lagi terdengar suanya. Sepertinya seri ini termasuk. Terlihat dari penerbit yang sekaligus menerbitkan tiga buku tanpa gaung. Seperti mencoba pasar dan hanya menebus biaya pra-cetak seperti biaya hak cipta dan honor penerjemah serta editor. Tak ada yang bisa dilakukan kecuali menyelesaikannya dengan membaca buku aslinya, bagaimanapun caranya.

Terlepas dari urusan bisnis di atas, buku ini sangat seru! Cerita petualangan penuh rintangan dan sisipan pelajaran yang cocok untuk pembaca anak-anak. Tidak dipungkiri penulis menggaet ilustrator kepercayaannya untuk memeriahkan isi buku. Ide cerita yang diangkat sebenarnya sungguh sederhana. Hanya ekspedisi penuh rasa ingin tahu Gracie Gillypot dan Pangeran Marcus melacak kurcaci. Kemudian masalah muncul. Lalu sekiranya masalah itu bakal beres, rintangan lain datang. Dan terus seperti itu sampai-sampai Gracie dan Marcus memiliki petualangannya sendiri-sendiri. Dan itu membuatku terus membaca.

Penulis berhasil menceritakan sudut pandang orang ketiga dengan memberikan emosi pada setiap tokohnya. Hematnya, pembaca bisa merasakan perasaan tiap-tiap karakter, layaknya cerita yang dibawakan dengan sudut pandang orang pertama. Seperti kebakaran jenggotnya Pangeran Marcus ketika kehilangan Gracie. Juga ketika Gracie berada dalam terowongan yang gelap bersama Flo dan mendengar suara langkah kaki.

Sebagai seorang Jiwa Sejati, Gracie selalu memberikan aura positif kepada orang-orang di sekitarnya. Kurang lebih seperti itulah yang diucapkan Marlon seusai petualangan bertemu troll tua dan Jantung Kaca-nya yang mengerikan itu. Dan mungkin, aku akan merindukan kisah Gracie dan Pangeran Marcus karena kemungkinan membaca buku keempat seri ini kecil. Padahal, mereka akan bertualang lagi mencari naga. Naga! Atau aku masih bisa berharap?


"Dia itu seorang Jiwa Sejati. Hidupnya takkan selalu mudah. Bagus sekali dia memilikimu sebagai teman." (hal. 247)


Ulasan ini untuk tantangan FSFD Reading Challange 2016.

Baca juga:

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Back to Top