08 Maret 2017

Ulasan Buku: Of Mice and Men

Judul : Tikus dan Manusia
Judul Asli : Of Mice and Men
Pengarang : John Steinbeck
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2017
Dibaca : 19 Februari 2017
Rating : ★★★★

"Begini saja, Lennie. Nanti, begitu aku bisa, aku akan memberimu anak anjing. Mungkin kau tidak akan bikin yang itu mati. Akan lebih baik dibandingkan tikus. Dan kau bisa elus dia lebih kuat." (hal. 22)

Secara tidak sengaja aku menemukan potongan obrolan yang disimpan dalam aplikasi perpesanan seperti ini: 'Hope' nggak pernah salah. Yang biasanya ngaco itu 'expectation'. Mungkin benar sih, ekspektasi kita ke orang terkadang berlebihan, terlalu menganggap dia 'best friend'. Petikan itu terasa menggebu-gebu dan penuh emosi. Sayangnya, aku lupa dengan siapa aku mengobrol dan membicarakan best friend sampai sebegitu intimnya. Dan aku juga tidak ingat siapa yang menuliskannya: aku atau lawan mengobrolku. Terlepas dari hal-hal pikun itu, aku bisa mengerti tentang petikan di atas dan memang beberapa yang diharapkan dan menjadi ekspektasi akan menyakitkan bila tidak sesuai kenyataan. Apalagi soal teman dekat atau sahabat.

***

George dan Lennie adalah dua pekerja serabutan yang berpindah-pindah dari satu rumah peternakan ke rumah peternakan lain. Bila sang pemilik sudah tak lagi membutuhkan mereka, mereka akan dilimpahkan ke pemilik lain yang menginginkan jasa jongos. Atau dalam kasus George dan Lennie, mereka kabur dari rumah peternakan si pemilik karena mereka berbuat sesuatu yang tidak sopan. Sebenarnya, Lennie yang berbuat tidak sopan. Ia mengelus-elus paha seorang wanita karena penasaran alih-alih bernafsu ingin melakukannya. Wanita itu tentu saja menjerit kencang. Untunglah George lekas membawa Lennie pergi walaupun sedikit alot karena Lennie masih ingin mengelus paha mulus sang wanita. Mereka kabur dari lingkungan tersebut dan coba mencari rumah peternakan lain.

Dalam perjalanan, George melihat Lennie menyembunyikan sesuatu di tangannya. George tahu apa itu: hewan pengerat menjijikkan. George marah dan minta Lennie menyingkirkannya. Namun, Lennie malah meraung-raung memohon agar George membiarkannya menyimpan binatang itu. George tidak suka karena itu sudah mati dan bisa saja Lennie memakannya secara diam-diam. Lennie bersikukuh untuk tetap menyimpannya. Sampai George memaksanya dan membiarkan Lennie menangis. George berjanji untuk menggantinya dengan anak anjing. Dan George menepati janjinya.

***

Buku ini adalah cetakan kesekian versi terjemahan yang diterbitkan baru-baru ini. Penerbit ini sepertinya sedang gencar menerbitkan ulang karya-karya klasik luar negeri. Ada juga beberapa karya klasik yang benar-benar baru terbit terjemahannya di Indonesia. Bahkan beberapa di antaranya diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan sampul yang menagih. Aku memilih buku ini karena alasan: tipis, masuk 1001 buku yang kudu dibaca sebelum mati, dan sampul yang menawan. Entahlah. Aku suka dengan lukisan pemandangan yang ditonjolkan di sana. Dan memang cocok dengan isi cerita yang tidak jauh-jauh amat dengan ladang yang luas menghampar.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk membacanya. Hanya setebal 143 halaman dan herannya kebanyakan berisi dialog antarkarakter. Berbeda dengan buku-buku klasik lain yang sehalaman saja bisa memuat hanya satu paragraf dan itu belum cukup. Buku-buku klasik memang identik seperti itu: memiliki narasi mendetail sehingga terlalu panjang dan menjadikan alur lambat karena terganggu dengan paragraf-paragraf panjang tanpa henti. Sedikit membosankan juga. Namun, karya pertama Steinbeck yang kubaca ini sangat berbeda dari label klasik membosankan. Selain banyak percakapan, paragraf panjang yang mencapai sehalaman penuh pun tak terdeteksi. Aku jadi bisa menikmatinya dengan lebih mudah; sangat mudah malah.

Edited by Me

Ingat bahwa aku menyinggung tentang best friend di atas? Cerita yang diangkat dalam buku ini juga seputar itu. Tentang dua orang yang mari kita sebut teman dekat atau mungkin sahabat. Mereka yang sudah lama bersama-sama. Mereka dan kekurangan serta kelebihannya masing-masing yang seharusnya sudah bisa saling dimengerti. Namun, karena salah satu di antaranya tidak lebih baik di antara yang lain, menjadikan hubungan mereka berdua sedikit demi sedikit mulai berubah. Pada puncaknya, salah satu dari mereka memutuskan untuk mengubah semuanya. Sampai di situ mungkin kamu akan menebak-nebak bagaimana akhir cerita mereka.

Tapi, tidak sampai di situ saja. Ada hal lain selain persahabatan yang terceritakan secara tersirat pada buku ini. Di atas, aku juga menyinggung soal harapan dan ekspektasi. Pada buku ini, Lennie yang sedikit terbelakang dan bertingkah seperti bocah selalu menyukai hal-hal utopis yang dijanjikan oleh George. Tentang anak anjing salah satunya. Dan tentang rumah yang akan ditempati mereka dua juga peternakan dan kebun kecil yang mereka miliki sendiri. Cerita-cerita yang disampaikan oleh George membuat Lennie ingin selalu tetap bersama George; akan menuruti semua perkataan George dan akan selalu meminta maaf bila salah agar mereka tetap bersama-sama dan dapat mewujudkan impian tersebut. Hal itulah yang sepertinya membuat Lennie dan George tetap bersatu. Namun, tentu saja George mengantisipasi janji-janjinya. Ia bertanya-tanya apakah hal itu benar-benar terjadi pada mereka di masa depan.

Aku menyukai janji-janji manis George kepada Lennie. Itu semacam hasrat untuk tetap hidup. Itu juga merekatkan mereka berdua untuk selalu bersama-sama. Yah, setidaknya seseorang membutuhkan tujuan agar tetap hidup. Hal itu yang kemudian membuatku tertowel. Bahwa harapan, ekspektasi, dan kenyataan selalu berkejar-kejaran. Harapan akan membuat tetap bertahan, ekspektasi membuat segalanya jauh lebih indah, dan kenyataan akan menyadarkan semuanya. Sayangnya, kenyataan selalu berada di akhir sehingga segala yang mungkin tidak sesuai harapan dan ekspektasi akan membuat kecewa. Sylvia Plath mengatakan, "If you expect nothing from somebody, you are never disappointed." Dan aku setuju dengannya.

Bacalah dan ceritakan apa yang kamu dapatkan dari buku ini. Aku menyukai kisah George dan Lennie, tentu saja. Aku bahkan menangis di akhir cerita. Buku ini telah mengajarkanku hal-hal yang kujabarkan panjang lebar di atas. Sekarang aku tahu kenapa buku ini masuk dalam daftar bacaan yang harus dibaca sebelum mati.

"Aku lihat ratusan orang datang dari jalan dan ke peternakan-peternakan, dengan menggendong buntelan selimut di punggung dan mimpi yang sama di kepala mereka. Ratusan orang. Mereka datang dan berhenti kerja dan pergi lagi; dan setiap orang itu punya tanah kecil di dalam kepala mereka. Dan tidak ada satu orang terkutuk pun yang berhasil mendapatkannya. Sama seperti surga. Semua orang ingin sedikit tanah. Aku baca banyak buku di sini. Tidak ada yang masuk surga dan tidak ada yang dapat tanah. Semua ini hanya ada di kepala mereka. Mereka terus-menerus bicara soal itu, tapi itu cuma ada di kepala mereka." (hal. 99-100)

Ulasan ini diikutsertakan dalam "Read and Review Challenge 2017" kategori Classic Literature.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Back to Top