01 Januari 2015

Wonderstruck

Sampul
Judul : Wonderstruck
Pengarang : Brian Selznick
Penerbit : Mizan Fantasi
Tahun : 2013
Dibaca : 31 Desember 2014
Rating : ★★★★★

“Kau tahu, Turtle, jangan takut-takut seperti kura-kura …. Coba julurkan lehermu …. Nyatakan pendapatmu, jadilah anak yang berani. … Jangan takut memandang mata orang ketika mereka bicara kepadamu, oke?” (hal. 30)

Seusai membaca Hugo, aku langsung ambil buku ini. Layaknya kecanduan rokok, karangan om Selznick ini menjadi candu bagiku yang menyukai sejarah dari cerita yang berbeda. Setelah membacanya aku langsung membuat permintaan agar segera ditejemahkan dan diterbitkan jika ada buku om Selznick yang baru. Sebenarnya beberapa bukunya juga sudah terbit sejak lama, tapi baru The Invention of Hugo Cabret dan Wonderstruck saja yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Mari enyahkan gambaran tentang Hugo dan automaton. Ben Wilson bisa jadi tidak menyukai malam hari seumur hidupnya karena dia harus tidur sekamar dengan sepupunya yang selalu mengejeknya setiap malam karena satu telinganya tidak dapat mendengar.

Gunflint Lake, Minnesota
Ben tinggal bersama paman dan bibinya di Gunflint Lake, Minnesota, tidak jauh dari rumah ibunya yang dibiarkan kosong. Ibunya tiada beberapa tahun sebelum ini. Ben bahkan tidak kenal ayahnya karena sang ibu tidak pernah mengungkit hal itu. Satu hari Ben begitu rindu rumahnya hingga kilat besar membuatnya pingsan di dalam rumahnya sendiri. Setelah itu, Ben sama sekali tidak dapat mendengar.

***

Aku melihat beberapa kesamaan Ben dengan Hugo. Mereka berdua sama-sama diceritakan yatim-piatu. Mereka seolah menjadi makhluk paling menyedihkan di dunia karena kesusahan yang mereka hadapi. Hal itu membuat pembaca merasa kasihan dan ingin cari tahu bagaimana nasib mereka pada akhirnya. Om Selznick sangat lihai membuat karakter semacam itu.

Perbedaan Wonderstruck dengan The Invention of Hugo Cabret adalah ilustrasinya. Di Hugo, ilustrasi selalu mengikuti alur deskripsi cerita. Berbeda dengan Wonderstruck yang ilustrasinya menceritakan kisah yang berbeda dengan apa yang sedang Ben hadapi. Itu membuatku semakin heran—dalam arti positif—dengan penulis karena hanya dengan ilustrasi, dia bisa menjelaskan semuanya. Perfect!

The Author
Ah, aku jadi ingat komentar seseorang atas ulasan buku yang kubaca. Dia bilang kalau aku suka membandingkan satu cerita dengan cerita lainnya. Entah itu sebuah pujian atau kritikan. Aku mengakuinya karena memang aku suka dengan perbandingan. Ibarat sebuah pertarungan, harus ada lawan yang setara untuk mengetahui sejauh mana kau bisa berhasil mengalahkannya.

***

Inside AMNM
Lagi, aku tidak akan menceritakan kisah Ben lebih lanjut. Lagi, hal-hal dalam buku ini menarik perhatianku. Lagi, aku mendapatkan banyak informasi dengan membaca buku ini, terutama tentang beberapa museum di Amerika sana. Adalah American Museum of Natural History dan Queens Museum of Arts di New York.

The Panorama
Penulis menyinggung tentang World’s Fair 1964 di Queens. Pada waktu itu terdapat Panorama yang merupakan model arsitektur terbesar kota New York yang pernah dibuat. Ben akhirnya menemukan jawaban atas semua pertanyaan siapa ayah kandungnya dan bagaimana masa lalu kedua orangtuanya, berkat buku Wonderstruck yang ia temukan sebelum kilat besar membuatnya tuli.

Ahnighito
Ah, satu lagi: Ahnighito yang menjadi koleksi di American Museum of Natural History. Meteroit yang beratnya sekitar 31 ton ini ditemukan pada 1894 di Cape York, Greenland. Dalam cerita yang berlatar sekitar tahun 70-an ini, Ben bertemu Jamie yang membantu memberinya tempat tinggal sementara. Untung bagi Ben, Jamie memiliki ruangan rahasia di kawasan American Museum of Natural History. Ahnighito dan koleksi-koleksi lain di dalamnya sudah menjadi pemandangan sehari-hari bagi Ben dan Jamie.

Aku akan semakin menyukai genre fiksi-sejarah dengan membaca karangan Brian Selznick, walaupun baru dua.

1 komentar :

  1. karya Brian Selznick memang memukau banget, moga2 karyanya yang lain diterjemahin juga ya... :)

    BalasHapus

Back to Top