23 Februari 2017

BBI Share the Love 2017: Cuap-Cuap Pamungkas Sharie

Edited by Me

Akhirnya acara yang sedikit bikin pusing ini berada di pengujung. Aku ingat ketika pertama kali berkenalan dengan Sharie dan memintanya untuk memberikan ide segar. Kami memikirkan banyak topik untuk diangkat dalam tukar pos kali ini dan berakhir pada ide untuk menceritakan apa yang membuat masing-masing dari kami begitu menyenangi membaca. Aku menuliskannya di blog Sharie dan begitu pula sebaliknya. Satu hal yang pasti adalah intensitas komunikasi kami semakin sering karena kami sama-sama diskusi untuk menentukan konsep yang berbeda namun tidak sampai membuat kami berdua kerepotan. Yah, kamu tahulah, bagaimana jika orang yang memiliki kesibukan mencoba untuk berkomitmen dengan acara yang diikutinya. 

Pada pos kali ini. Aku ingin bercerita tentang Sharie yang sangat menyukai buku-buku karya Agatha Christie. Aku bertanya tentang karakter favoritnya dari karya Agatha Christie dan jawabannya adalah: Aku suka Miss Marple karena kami sama-sama perempuan. Terus aku merasa kalau Miss Marple itu adalah Agatha Christie. Hehe. Selain itu, mungkin karena aku suka orang yang terlihat biasa-biasa saja namun menghanyutkan. Tahu kan kalau Miss Marple itu perempuan tua? Tapi karena kesehatannya yang rentan itu, kadang ia tidak "dianggap" oleh si tersangka. Selain itu, kala menyelidiki secara personal, ia bisa membuat penyamaran dengan merumpi. Padahal sebenarnya ia sedang menggali informasi. Jadi ingin seperti Miss Marple dari segi ketajaman pikirannya. Dan berharap kalau tua nanti masih bisa menikmati bacaan bergenre kriminal dan thriller. 

Aku tidak pernah tahu siapa itu Miss Marple. Aku baru membaca satu buku karya Agatha Christie yang berjudul "And Then There Were None" dan itu juga karena aku menyukai serial televisinya yang sudah diadaptasi pada 2015 lalu. Dan, memang, bagus. Aku sempat mencari referensi karya Agatha Christie lain yang mungkin bisa kubaca dan beberapa teman memberi rekomendasi buku yang judulnya "Murder on the Orient Express". Doakan aku, teman-teman, agar bisa membacanya suatu hari nanti. Terima kasih.

22 Februari 2017

Blog Tour: Milea + Giveaway

Judul : Milea: Surat dari Dilan
Pengarang : Pidi Baiq
Penerbit : Pastel Books
Tahun : 2016

Sebuah buku bisa sangat laku karena beberapa hal. Pertama, bisa jadi buku tersebut ditulis oleh seorang terkenal yang telah melanglang buana di dunia publik figur sehingga banyak orang yang tahu tentangnya dan mungkin saja menggemarinya. Dengan begitu, sang penulis tak perlu payah untuk mempromosikan bukunya karena sudah pasti banyak orang yang akan penasaran buku apa yang ditulis olehnya sehingga membelinya. Yang kedua adalah keunikan dari buku itu sendiri. Entah itu digadang-gadang sebagai pionir dari sebuah genre atau subgenre, karakternya yang kuat, gambar sampulnya yang sangat ingin dimiliki dan dibaca, atau yang lainnya.

***

Dilan akhirnya bicara. Ia menyampaikan kisah yang sudah diceritakan oleh Milea melalui sudut pandangnya sendiri. Dimulai dari masa kecilnya yang bahagia dan harmonis bersama orang tua di Bandung, pertama kali melihat gadis rupawan bernama Milea Adnan Hussein, sampai kisah-kisah selanjutnya yang, sebenarnya, sudah disampaikan oleh Milea pada dua buku sebelumnya. Tapi, bila memang banyak yang memintanya angkat suara, Dilan harus apa? Tentu harus melakukan permintaan tersebut. Maka dengan buku ini, Dilan menumpahkan semua yang dirasakannya dan memberikan penjelasan tentang apa yang sudah dilaluinya.

Dilan bercerita tentang kecemburuannya terhadap Milea kala gadis itu diajak pergi ke ITB oleh Kang Adi. Sampai beberapa hari setelahnya ibunya Milea menelepon Dilan dan memberi tahu bahwa Milea menangis karena merasa sudah membohongi Dilan karena sudah berjanji tidak akan pergi saat itu. Melalui buku ini, Dilan juga bercerita ketika ia menghajar Anhar karena Anhar menampar Milea. Padahal Anhar belum menjelaskan apa pun kepada Dilan. Dilan berpendapat bahwa ia masih terbawa emosi, padahal Anhar hanya ingin Dilan memberikan perhatian kepada sahabat-sahabatnya setelah berpacaran dengan Milea.

19 Februari 2017

Ketakutan yang Tersaji dalam Semua Ikan di Langit

Edited by Me

"Menyayangi itu adalah kegiatan yang menakutkan." (hal. 64)

Ada tiga cara mendapatkan manisnya iman yang disampaikan khatib saat khutbah Jumat kemarin. Salah satu caranya adalah dengan merasa takut kepada Tuhan. Hal ini penting karena bagaimana seseorang bisa beriman bila berani hengkang dari apa yang dipercayainya. Menurut Alquran dan Hadis, takut merupakan sifat orang yang bertaqwa dan menjadi bukti iman kepada Tuhan. Dalam perkara rasa takut ini, khatib mengingatkan kembali tentang memperhitungkan akibat dari apa yang sudah dan akan dikerjakan. Kalau membawa pahala, maka lakukan. Kalau membawa dosa, maka tinggalkan.

Ketakutan memang menakutkan. Mereka benar-benar bisa jadi penghalang seseorang untuk maju atau setidaknya menikmati hidup. Dengan berpikiran pada ketakutan-ketakutannya, seseorang tidak bisa tidur. Seorang lainnya terlalu menanggapi ketakutannya sehingga tidak pernah beranjak untuk melakukan hal lain. Ada pula orang yang coba membuat sebuah pilihan yang akan mengubah hidupnya namun terlalu lama untuk memikirkan ketakutan-ketakutannya dan berakhir dengan kegagalan karena terlambat untuk melakukannya. Namun, sepertinya setiap persona memiliki ketakutannya masing-masing. Biasanya berupa pertanyaan-pertanyaan bersifat pertaruhan tentang hidup yang tidak akan diketahui sebelum mengalaminya namun terus-menerus menghantui. Memang, kebanyakan ketakutan-ketakutan tersebut biasanya berkenaan dengan keberlangsungan hidup.

14 Februari 2017

BBI Share the Love 2017: Sharie dan Kecintaannya pada Membaca + Giveaway

Edited by Me

Sebenarnya sudah sejak lama aku kenal dengan istilah Hari Kasih Sayang atau yang biasa disebut Valentine. Selama itu pulalah aku bertanya-tanya apa sih yang dilakukan orang-orang pada Hari Kasih Sayang. Apakah mereka saling berpelukan dalam kurun waktu beberapa menit? Saling memberi hadiah seperti cokelat atau bunga? Menyalurkan kebahagiaan bersama orang-orang tedekat dengan cara mentraktir mereka? Atau apa? Bukannya kasih sayang sudah semestinya ada setiap manusia itu bernapas? Pertanyaan itulah yang kemudian membuatku bertanya kepada beberapa teman tentang arti Hari Kasih Sayang menurut mereka. Setelah tahu jawabannya, aku pun tahu bahwa mereka sebenarnya juga tidak merayakan Hari Kasih Sayang.

Seperti Hari Ibu yang merupakan saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaan sayang kepada ibu tercinta, Hari Kasih Sayang juga dibuat sebagai momentum untuk merayakan perasaan kasih dan sayang masing-masing individu. Bila lebih dibuat simpel lagi, ini juga seperti perayaan ulang tahun. Kita tahu bahwa setiap harinya umur kita bertambah. Namun, ada satu momen ketika kita berada tepat pada hari ketika umur kita bertambah. Dan hal itu membuat kita ingat bahwa kita sudah semakin tua dan harus menjadi lebih dewasa.

Pada momen Hari Kasih Sayang tahun ini, BBI membuat acara BBI Share the Love 2017 yang salah satu tujuannya adalah menunjukkan kasih sayang dengan memberikan hadiah buku sesama anggota. Aku yang ingin tetap eksis di komunitas ini tentu tidak mau ketinggalan. Setelah mendaftarkan diri, aku mendapatkan pasangan untuk saling menunjukkan kasih sayang dengan cara saling membelikan buku. Pasanganku adalah seorang wanita yang berdomisili di Karawang bernama Ratna Sari atau yang dirinya sendiri ingin kupanggil Sharie. Sebenarnya kami sudah saling berinteraksi melalui media sosial, namun tidak sampai sejauh itu.

11 Februari 2017

Ulasan Buku: Before Us

Judul : Before Us
Pengarang : Robin Wijaya
Penerbit : GagasMedia
Tahun : 2012
Dibaca : 10 Februari 2017
Rating : ★★★

"Rasa tak harus selalu diterjemahkan. Biar ia membimbing kita menuju tempat yang semestinya, tanpa perlu kita tanya." (hal. 80)

Entah ini sebuah pepatah atau kutipan atau hanya pendapatku saja, bahwa membaca buku adalah membaca peradaban dan zaman. Ketika kamu membaca buku-buku klasik yang sudah bertahun-tahun lalu dibuat, kamu akan tahu sedikit-banyak tentang apa yang diceritakan pada masa itu. Begitupun ketika kamu membaca buku-buku yang sudah beberapa tahun diterbitkan. Seperti buku ini yang terbit pada 2012 dan menceritakan tentang dua sahabat yang suka menonton film VCD dan mereka saling berkirim pesan melalui BlackBerry Messenger. Aku berpikir, ya, mungkin saja pada masa itu aplikasi berkirim pesan BBM sangat populer dan orang-orang masih mencari bahan tontonan melalui kepingan VCD. Tahun-tahun berlalu, dan kini sudah banyak yang menonton film via streaming dan juga meninggalkan aplikasi BBM. Zaman berubah. Orang-orang berubah.

***

Tidak mudah bagi Agil Aditama menjadi seorang suami setelah sahabatnya kembali. Hampir bertahun-tahun tidak berkontak, Radith Satya yang baru pulang dari Korea menemuinya untuk melepas rindu. Saat itu, Agil masih dalam masa persiapan pernikahan bersama Ranti, temannya dan Radith sejak zaman kuliah. Agil sedang sibuk-sibuknya mencicil satu demi satu keperluan pernikahannya dengan Ranti. Namun, kehadiran Radith membuatnya merasa tidak keruan. Memori masa lalunya bersama Radith kembali mengemuka, saat-saat menyenangkan ketika menonton film bersama melalui VCD dan yang lainnya. Juga memori tentang perasaannya terhadap Radith.

Tentu beralasan mengapa Agil begitu risau ketika Radith datang. Radith adalah masa lalunya. Sahabat yang lebih dari sekadar sahabat. Mereka saling bergantung. Mereka saling terikat. Bahkan ketika mereka satu sama lain memperkenalkan pacarnya, masing-masing dari mereka merasa cemburu. Perasaan yang muncul bukan secara tiba-tiba. Mereka seperti memupuknya, namun terlalu banyak sehingga berlebihan. Namun, apa perasaan itu salah? Bagaimana dengan masa depan Agil dan istrinya?

Back to Top