15 Januari 2017

[Wrap Up] Fantasy, Science Fiction, Dystopia Reading Challenge 2016 + The Winner


Aku lupa untuk memasukkan tantangan membaca ini ke dalam kaleidoskop 2016. Kala itu, membuat Fantasy, Science Fiction, Dystopia Reading Challange 2016 adalah sebuah tantangan tersendiri. Setelah membuat pos opini tentang perbedaan genre fantasi, fiksi ilmiah, dan distopia, aku memberanikan diri untuk membuat tantangannya. Salah satu alasanku menyelenggarakannya adalah cari tahu berapa banyak pembaca yang menyukai genre campur-aduk ini. Alasan lainnya karena aku sendiri ingin mengukur seberapa jauh aku masih menggemari genre-genre ini. Sampai akhirnya memutuskan untuk memberi hadiah yang lumayan bagi pemenangnya, aku tahu bahwa tantangan ini harus berjalan apa pun risikonya. Dan tak dinyana, pada dua bulan pertama, sudah ada 80 tautan yang disetorkan. Sangat di luar dugaanku!

Mari bicara data. 32 orang berani mendaftarkan diri dalam Fantasy, Science Fiction, Dystopia Reading Challange 2016. Dari tiga level kesulitan, yang memilih level Muggle dan Elf sama kuat yaitu masing-masing 15 orang. Sedangkan untuk level Dragon ada 2 orang. Dan jumlah dari seluruh ulasan yang disetor: pada periode Januari - Februari 2016 sebanyak 80 tautan, periode Maret-April 2016 sebanyak 44 tautan, periode Mei-Juni 2016 sebanyak 20 tautan, dan periode Juli-Desember 2016 sebanyak 43 tautan. Totalnya 187 tautan. Ada yang janggal? Jika disimak baik-baik, jumlah tautan pada periode enam bulan saja kalah dengan yang ada pada periode dua bulan pertama; hampir setengahnya. Tidak semua orang bisa konsisten dengan apa yang mereka harapkan di awal tahun. Salah satu penyebabnya adalah karena kesibukan. Aku tidak akan berkomentar lebih jauh. Sampai di sini dan aku masih belum berbicara ada berapa orang yang berhasil dengan tantangan membacanya. Aku berharap ada.

08 Januari 2017

Ulasan Buku: Playon

Judul : Playon
Pengarang : F. Aziz Manna
Penerbit : Grasindo
Tahun : 2016
Dibaca : 25 Desember 2016 (via SCOOP)
Rating : ★★★

"sebuah paku menancap. kau membayangkan tangan yang kekar itu, martil itu, menghantamnya, menembuskannya, menancapkannya, dan membiarkannya. sebuah paku menancap. kau membayangkan jam atau pakaian atau kunci atau foto tergantung di situ. sebuah paku menancap. kau membayangkan apa yang harus terjadi antara sebuah besi, sebuah palu dan pakaian dan kunci dan jam penunjuk waktu itu bahkan foto kenanganmu. sebuah paku menancap. kau pun membayangkannya menancap di tengah telapak tangan di kayu palaing. sebuah paku menancap. sendirian dan tak terperhatikan." (Paku, hal. 30)

Sudah saatnya aku menuntaskan ulasan buku ini. Setelah berkali-kali memutar otak akan membahas apa selain mengulas, akhirnya aku memutuskan untuk berinteraksi langsung dengan sang penulis melalui email. Sekaligus mengajukan beberapa pertanyaan yang mengganjal seusai membaca "Playon". Inginnya kujadikan percakapan bagai wawancara. Tapi karena tidak banyak-banyak amat, aku hanya selipkan jawaban yang diberikan penulis. Salah satunya adalah pendapat penulis tentang sayembara sastra daerah selain Jakarta yang sepertinya kurang terasa gaungnya.

***

Satu hal yang pasti, aku tahu tentang "Playon" karena menjadi pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2016 kategori Puisi. Saat mengobrol bersama teman penyuka sastra, menanyakan kepadaku apakah buku tersebut mudah dipahami. Sebagai keturunan Jawa (yang pada akhirnya murtad karena hanya tahu sedikit-sedikit tentang bahasanya), aku mengerti isinya sedikit banyak. Dan itulah yang kujawab pada temanku tersebut. Ia yang orang Jakarta ragu untuk membaca "Playon" karena khawatir tidak mengerti puisi-puisi yang disampaikan. Aku jadi bertanya-tanya kenapa nuansa Jawa-nya kental sekali. Dan aku berasumsi, mungkinkah puisi-puisi di dalamnya dibuat untuk kalangan sendiri saja. Untungnya, aku mendapat jawabannya.

[Wrap Up] Read and Keep Reading Challenge


Ingat celengan siluman di atas? Aku pernah memperkenalkannya pada pos artikel "Read and Keep Challenge". Kamu tahu beratnya berapa sekarang? Jangan tanya karena aku pun tidak tahu jawabannya. Pokoknya, celengan tersebut sudah terisi banyak. Aku menabung sekaligus mengikuti tantangan Mbak Alvina dalam "Read and Keep Challenge". Lebih tepatnya, aku tidak akan menabung bila tidak ada tantangan ini. Jadi, aku beterima kasih kepada sang penantang. Namun sayangnya, aku semakin keranjingan menabung sehingga sepertinya akan kubiarkan tidak terbuka sampai benar-benar tidak bisa dimasukkan uang logam dan kertas lagi. Atau sampai aku benar-benar membutuhkan uang.

Begini, pernahkah kamu membuat target sesuatu pada awal tahun dan mengubahnya di tengah tahun? Atau, pernahkah kamu bertekad menabung untuk beli sebuah buku pertama dari seri kesukaanmu dan pada pertengahan tahun tekadmu menjadi berlebih sehingga keinginanmu pun diperbesar menjadi boxset seri kesukaanmu itu karena kamu tahu bahwa kamu sanggup membelinya? Nah, itulah yang terjadi dengan si celengan siluman. Awal mengikuti tantangan ini, aku tidak ada tujuan apa pun dengan uang yang kusisihkan. Hanya untuk 'tantangan' saja. Sampai di tengah jalan, aku membuat sebuah nazar dan berpikir bahwa lebih baik mengalokasikan tabungan dari si celengan siluman itu untuk mewujudkannya.

07 Januari 2017

Read and Review Challenge 2017

Edited by Me

Awalnya, berpikir untuk tidak mengikuti tantangan membaca apa pun pada tahun ini. Namun, rasanya hambar bila hanya membaca tanpa target lainnya. Ada "Goodreads Reading Challenge" yang sejak 2013 berhasil dilakukan sih, tapi itu kan cuma tantangan membaca buku sesuai dengan jumlah buku yang ditentukan. Itu sih semacam kamu punya target makan tiga kali sehari yang akan kamu lakukan sehari-hari karena ya itu memang kebutuhan sehari-hari. Bedakan bila, misalnya, kamu harus makan makanan berbahan sayur-mayur pada hari Senin dan makanan berbahan dasar seafood pada hari Sabtu. Terlihat lebih menantang, bukan?

Kabar gembira! Divisi Event BBI yang biasa menyelenggarakan acara daring maupun tidak membuat terobosan baru tahun ini. Menggantikan Posting Bareng BBI yang sudah dilakukan beberapa tahun terakhir, Divisi Event BBI akhirnya membuat tantangan "Read and Review Challenge 2017". Pertanyaan selanjutnya: apakah itu? Simpel, itu adalah tantangan membaca dan mengulas. Tapi, sudahkah cukup sampai di situ? Tidak. Para tertantang harus mengumpulkan poin dari setiap buku yang dibaca dan diulas tersebut sesuai kategori yang diberikan. Ada 25 kategori biasa dan 5 kategori luar biasa! Nah, sudah merasa panas?

05 Januari 2017

Solanin dan Penjelasan Singkat Quarter-life Crisis

Judul : Solanin (Vol. 1 & Vol. 2)
Pengarang : Inio Asano
Penerbit : M&C Comics
Tahun : 2015
Dibaca : 5 Januari 2017
Rating : ★★★★★

Aku mulai dari mana ya? Mungkin ketika sedang blogwalking dan menilik artikel tentang buku terbaik dari teman-teman pembaca—hal yang wajar dilakukan saat pergantian tahun. Saat berkunjung ke blog Maila, aku menemukan "Solanin" pada urutan pertama daftar buku terbaik yang dibuatnya. Aku semacam meremehkan buku tersebut karena masuk komik. Begini, aku tidak pernah membeli komik, membacanya pun tidak. Aku bahkan sempat mengaku bahwa aku tidak suka komik. Semakin mencari tahu tentang komik tersebut, rasa penasaranku semakin membuncah. Apalagi komik tersebut hanya dua seri tamat. Peluang untuk memilikinya lebih besar karena tidak perlu bervolume-volume komik untuk mengikuti ceritanya.

Aku melakukan blogwalking saat istirahat makan siang, lalu petangnya sepulang kantor langsung menuju toko buku untuk mencari komiknya. Berharap mendapatkan keduanya secara bersamaan. Namun, saat itu aku hanya mendapatkan volume pertamanya saja. Malam itu juga aku menghabiskan volume satu tersebut. Dan apa yang terjadi? Ceritanya menggantung dan aku amat geram. Tidurku terbayang-bayang akan Meiko yang menunggu-nunggu kehadiran Taneda pada akhir volume pertama.

***

Meiko Inoue, seorang karyawati biasa di Tokyo, sedang mempertanyakan dirinya sendiri. Untuk apa ia bekerja? Akankah ia akan bertambah tua dengan cara seperti itu saja? Berhadapan dengan muka-muka palsu yang peduli dengan kehidupannya masing-masing. Orang dewasa yang hanya berpikir bagaimana agar tetap hidup dan menyerah pada keadaan. Hingga suatu hari Meiko menghadapi polah atasannya yang menyebalkan. Ia minta pulang cepat. Di flatnya, ia menemukan Taneda yang masih tidur di sofa. Meiko pun mengajukan pertanyaan terbesarnya dengan bergumam kepada Taneda. Pertanyaan yang akan menentukan keputusannya. Sampai Tanada memberikan jawabannya.

Naruo Taneda hanya seorang tukang gambar serabutan yang pendapatannya tidak lebih besar dari Meiko. Untungnya, ia adalah pacar Meiko sejak enam tahun lalu dan mereka tinggal bersama selama kurang lebih satu tahun. Saat mengetahui keputusan Meiko untuk berhenti dari tempat kerjanya, Taneda merasa kacau. Jawaban yang diberikannya benar-benar dilaksanakan oleh Meiko. Taneda yang biasa berbicara setengah tidur cemas dengan masa depan mereka berdua. Apa yang harus ia lakukan?

Back to Top