26 Maret 2017

Dua Individu Jadi Satu dalam One


"Normal adalah satu-satunya yang pernah kuinginkan
dan aku bersedia menukar
aneh atau ganjil atau spektakuler atau menakjubkan
dengan normal
kapan pun." 
(hal. 148)

Pikirkan tentang satu individu yang memiliki banyak keinginan dan harus bisa memilah-milah mana yang harus dituruti dan mana yang diabaikan. Pikirkan juga tentang satu individu yang memiliki kegemaran dan akan menekuni kegemaran tersebut karena ia amat suka melakukannya. Pikirkan tentang satu individu yang sedang amat menyukai dengan seseorang dan dia akan melakukan apa saja untuk sang pujaan hati. Setelah itu, pikirkan tentang dua individu yang memiliki urusan-urusan kehidupan yang lumrah di atas namun hanya memiliki satu tubuh. Bagaimana mereka bisa menjalankan kehidupan mereka? Apakah mereka benar-benar harus mengorbankan keinginan, kegemaran, serta perasaannya tersebut?

Itulah hal penting yang dapat dipelajari oleh mereka yang memiliki kelebihan khusus yaitu kembar siam. Mereka memiliki dua kepala dengan dua otak yang berbeda namun berada dalam satu tubuh yang sama. Mereka sudah pasti berbagi kaki dan sebagian lainnya mungkin berbagi tangan. Lalu bagaimana dengan organ-organ dalam? Sudah barang tentu makanan yang mereka inginkan atau mungkin makanan favorit mereka berbeda, tapi apakah mereka akan merasakan lapar pada saat yang bersamaan? Apakah ketika satu individu makan lalu individu yang lain juga makan? Dan mari kita luruskan satu hal: kembar siam terdiri atas individu yang berbeda. Walaupun mereka bersatu tubuh, tetapi masing-masing memiliki otak berbeda dan mungkin juga organ hati dan jantung yang berbeda juga yang berarti mereka memiliki pemikiran dan perasaan yang berbeda satu sama lain. Jadi, yang satu adalah individu lalu yang lainnya juga adalah individu. Sudah dipahami? Bagus, karena ini akan amat berpengaruh dalam cerita yang akan diulas sesaat lagi.

Sebenarnya banyak sekali jenis kembar siam dengan macam-macam bagian tubuh yang terhubung pada kembar siam. Para kembar siam memiliki banyak kemungkinan untuk terhubung dengan tubuh lain antara satu sama lain, misalnya pada bagian perut, tulang belakang, panggul, atau bahkan kepala. Namun, bagian tubuh yang paling sering terhubung pada sebagian besar para kembar siam adalah dada. Terhubungnya dada jugalah yang menjadi takdir gadis remaja kembar siam bernama Grace dan Tippi dalam kisah karya Sarah Crossan berjudul One.


Judul : One
Pengarang : Sarah Crossan
Penerbit : Spring
Tahun : 2017
Dibaca : 17 Maret 2017
Rating : ★★★★

Grace dan Tippi memiliki dua kepala dan empat tangan namun bergabung jadi satu dari pada bagian tubuh pinggul ke bawah. Karena kondisi yang seperti itu, mereka bersekolah di rumah dengan mengundang pengajar-pengajarnya. Hingga berita besar yang akan mengubah hidup mereka itu pun datang. Ayahnya sudah tak lagi bekerja dan—walaupun bersusah payah mencari gantinya--dia masih belum mendapatkannya. Sang ibu yang tadinya hanya mengurusi Grace dan Tippi jadi harus menjadi tulang punggung sementara sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Hal itu membuat Grace dan Tippi harus bersekolah di sekolah biasa yang dibiayai pemerintah. Dan sepenggal kisah mereka ini dimulai ketika mereka berkompromi dengan orang-orang di luar lingkaran mereka; orang-orang luar.

***

Setelah membaca sinopsis cerita, aku menandai buku ini sejak penerbit Spring membagikan kisi-kisi judul yang akan mereka terbitkan melalui akun Instagram pada Januari lalu. Aku ingin segera membaca buku ini. Walaupun, buku ini menceritakan kisah remaja yang sepertinya amat tipikal, aku melihatnya berbeda karena, yah, memang berbeda. Bukan hanya tentang masalah-masalah remaja dengan berbagai macam probabilitas dalam masa transisi mereka, namun ada abnormalitas tokoh yang menjadikan masalah semakin besar dan serius. Bagi yang sering membaca fiksi bertema remaja, sudah biasa kalau bahan utama adalah tentang si tokoh utama, orang-orang di sekitarnya yang bisa jadi keluarga atau pacar atau siapa pun, dan masalah yang menyangkut dirinya. Bagaimana jika bahan utama itu ditambah satu bahan lagi yaitu ketidaknormalan atau kecacatan si tokoh?

Ekspektasi tinggiku sempat goyah karena buku ini ternyata dibawakan dengan penulisan berbeda. Tidak seperti novel kebanyakan, buku ini menggunakan gaya penulisan unik layaknya bait-bait puisi. Menurutku, tidak tepat untuk mengkategorikan gaya Crossan pada buku ini sebagai puisi. Karena walaupun memang berbait-bait, tapi kandungan isinya tidak menggunakan diksi yang estetis dan puitis. Bahasanya lugas dengan dialog dalam tanda kutip dua yang juga bukan kiasan. Aku sedikit terkejut dengan jenis gaya penceritaan yang seperti ini, namun lama-kelamaan aku menikmati setiap kalimat yang dibawakan pada buku ini. Apalagi ketika memasuki cerita yang lumayan bikin melupakan gaya penulisannya.

Aku belum pernah membaca buku tentang kembar siam. Yang kutahu tentang kembar siam adalah dua orang yang terlahir dalam keadaan menyatu dan kasus kembar siam pertama kali berada di Siam yang kemudian dijadikan istilah dalam bahasa Indonesia. Membaca buku ini, aku jadi tahu lebih banyak. Buku ini menyebut Chang dan Eng Bunker yang merupakan kembari siam pertama yang diekspos dan lahir di Siam atau yang sekarang lebih dikenal sebagai Thailand. Buku ini juga memberikan penjelasan tentang bagaimana kembar siam menjalani kehidupannya sehari-hari. Dua individu makan bersama-sama, mandi bersama-sama, buang air bersama-sama. Mereka juga melakukan konsultasi dengan ahli mereka walaupun berbeda jadwal dan kunsultannya. Untuk yang ini, jika salah satu dari mereka melakukan konsultasi, yang lainnya harus memasang penutup telinga agar tidak mendengar apa yang saudara kembarnya itu sampaikan ke ahlinya. Toh bagaimanapun mereka juga tetap memiliki privasi masing-masing.

Chang dan Eng Bunker (1811-1874)

Aku juga diberi tahu tentang betapa menyakitkannya bila ada kasus kembar siam harus dipisahkan. Biasanya, perlakuan ini terpaksa dilakukan karena salah satunya menjadi inang bagi yang lain dan bisa menyebabkan mereka terus-menerus sakit-sakitan dan yang lebih parah lagi kematian bagi mereka. Dan mati lebih buruk dari hidup kan? Hal-hal buruk bukan sesuatu yang harus dibiarkan. Harus ada penanganan. Harus ada hal baik yang bisa mengatasi dan mengenyahkan hal buruk. Maka pemisahan dilakukan agar mereka tetap hidup atau salah satu dari mereka tetap hidup. Walaupun ini bagai melempar dadu pada lotere, setidaknya, mereka telah mengambil langkah baik dan bertopang dagu. Wah, pengetahuan tentang kembar siamku semakin meningkat. Terima kasih, Grace dan Tippi.

Kupikir, buku ini akan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Adalah Grace yang menceritakan semuanya. Dari awal sampai akhir. Sehingga pembaca berpikir bahwa buku ini akan condong ke arah Grace. Dan itu memang benar. Dan itu membikin kisahnya amat sangat emosional. Dan itu membuat pembaca merasakan apa yang dirasakan Grace. Dan itu yang membuatku sedikit menangis. Lalu kemudia aku menyadari bahwa menjadikan pemilihan sudut pandang orang pertama ini sangat cerdas. Dan aku memberikan apresiasi kepada Crossan yang sangat brilian dalam penulisan buku ini. Sudut pandangnya. Tema yang diangkatnya. Gaya penulisannya yang sedikit aneh di awal. Serta bait-bait nonpuisi yang dibuatnya yang berpengaruh besar bagi perasaan pembaca buku ini.

Sulit sekali untuk menceritakan bagaimana kehidupan Grace dan Tippi tanpa memberi tahu semuanya. Jadi, lebih baik aku tidak menceritakannya saja supaya kamu bertanya-tanya apa yang terjadi oleh mereka. Bagaimana hari pertama sekolah mereka? Bagaimana mereka dipandang oleh orang-orang di sana atau, lebih tepatnya, bagaimana perasaan Grace ketika dipandangi oleh orang-orang di sana? Apakah mereka akan memiliki teman? Apakah mereka akan menyukai cowok? Apakah mereka memiliki keinginan untuk berpisah satu sama lain?

Buku ini menceritakan kegamangan dua individu yang terjebak dalam satu tubuh. Di satu sisi, mereka amat ingin berpisah karena mereka memiliki prinsip dan pedoman serta pemikiran berbeda antara satu sama lain. Namun, di sini lain, mereka sudah ditakdirkan bersatu sejak lahir. Mereka lengkap karena mereka satu. Bagaimana mungkin mereka berpisah setelah sekian lama? Bagaimana kalau mereka berpisah karena mereka harus berpisah? Apakah akan tetap 'satu'?

Ulasan ini diikutsertakan dalam "Read and Review Challenge 2017" kategori Young Adult Literature.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Back to Top