24 Juni 2016

Ulasan Buku: The Worst Years of My Life

Sampul
Judul : Middle School: The Worst Years of My Life
(Middle School #1)
Pengarang : James Patterson & Chris Tebbetts
Penerbit : Noura Books
Tahun : 2013
Dibaca : 11 Juni 2016
Rating : ★★★

Aku buru-buru membaca ini setelah mengetahui bakal ada adaptasi filmnya yang bakal tayang dalam waktu dekat. Yah, siapa tahu akan beda jalan cerita dengan karya aslinya. Dan sepertinya memang begitu. Jadi, sebelum menikmati film yang diperankan oleh Griffin Gluck dan Lauren Graham, mari cari tahu seberapa nakal si pemeran utama bernama Rafe ini.

***

Rafe Khatchadorian mungkin hanya ingin membuat hari-hari membosankannya di sekolah menjadi menyenangkan. Dia mendapatkan buku "Tata Tertib Hills Village Middle School" saat Pertemuan Akbar Sekolah. Buku itu berisi semua hal menyangkut apa yang perlu siswa-siswi ketahui tentang yang boleh dan tidak boleh dilakukan di sekolah. 

Rafe melihat Leo membalik buku itu dan menunjukkannya gambar seorang anak yang begitu keren dan jauh lebih menyenangkan darinya. Setelahnya, ide muncul di benak Rafe. Ide sangat besar dan superkonyol. Ide yang mengalirinya seperti banjir bandang. Sebentar, Leo itu siapa?

***

Ide yang dibuat Rafe dan Leo adalah Misi R.A.F.E (Rules Aren't for Everyone). Seperti judul misinya, Rafe sangat ingin melanggar semua tata tertib yang terdapat pada buku yang diterimanya itu. Ada kolom aturan yang harus dilanggar, kolom poin, lalu kolom saksi yang diperlukan. Selanjutnya, Rafe membuat poin bonus dengan kriteria tertentu. Pokoknya Rafe membuatnya dengan begitu taktis dan sadis. Yang paling tinggi adalah "Berhasil menghindar dari dikirim ke kantor Wakil Kepala Sekolah atau mendapat hukuman".

Kenapa ya penulis membuat cerita seperti ini? Ada alasan tersendiri mungkin. Yang aku dapatkan dari kisah Rafe yang, ampun deh, bikin geregetan adalah anak-anak memang tidak seharusnya dikekang dengan peraturan ketat. Tapi tentu anak-anak perlu belajar menaati tata tertib di lingkungannya berada—tidak seburuk Rafe.

Hadir juga karakter sang ibu yang penyayang namun tidak berdaya karena kehadiran suami barunya. Ayah tiri Rafe yang menyebalkan itu sangat membuatnya tidak nyaman berada di rumah. Jangan lupakan Miller, teman sekelas Rafe yang selalu mengganggunya. Juga Jeanne, cewek yang membuat Rafe tertarik itu tidak menghiraukannya. Jadi, Rafe harus melakukan segala cara agar Jeanne tertarik padanya. Adakah kolerasi dari situasi-situasi ini dengan tingkah-polah Rafe di sekolah? Sepertinya.

Buku ini penuh dengan ilustrasi kasar yang amat membantu Rafe dan Leo menaklukan tahun terburuknya itu. Dan akhir yang tidak bisa dibilang menyenangkan juga tidak bisa dibilang menyedihkan itu membuat pembaca lebih mengerti tentang keadaan Rafe. Konklusi yang bisa kuambil adalah anak-anak melakukan sesuatu karena dampak dari apa yang dialaminya dari lingkungan sekitarnya. Dan, yeah, kau akan tahu siapa itu Leo setelah membaca buku ini.


"Orang-orang selalu bilang bahwa menjadi dewasa adalah hal yang hebat. Namun, yang kulihat cuma munculnya lebih banyak aturan, dan lebih banyak orang dewasa yang memberitahu apa yang harus dan tidak boleh kulakukan dengan alasan untuk 'kebaikanku sendiri.'" (hal. 29-30)

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Back to Top