30 Juni 2016

Ulasan Buku: 14th Guardian

Sampul
Judul : Fantasteen Numb3rs: 14th Guardian
Pengarang : Dwi Pratiwi, dkk.
Penerbit : DAR! Mizan (Mizan)
Tahun : 2016
Dibaca : 26 Juni 2016
Rating : ★★★

"Ketika kamu ingin melampaui satu, ingatlah bahwa sesuatu di atas satu adalah nol. Dan nol menandakan ketiadaan." (hal. 17)

Tidak ragu lagi untuk membeli buku ini karena salah satu teman komunitas menjadi kontributor di dalamnya. Cerita yang ditulisnya menjadi judul buku ini dan dibuatkan komiknya. Siapa sih yang tidak bangga bila hal yang diidam-idamkannya terwujud? Temanku ini juga sudah lama menginginkan tulisannya diterbitkan—bahkan dalam pengantarnya dia menulis, "Satu dari sekian banyaknya kutu buku yang bercita-cita jadi penulis". Dan akhirnya dia meraih cita-citanya itu! Selamat ya, Ratih!

***

Buku ini berisi lima cerita pendek dan dua di antaranya ditampilkan dalam bentuk komik. Kesemuanya memang memiliki satu kesamaan, yaitu sama-sama berjudul angka atau mengandung angka. Walaupun memang cerita-cerita di dalamnya tidak memberikan satu benang merah yang membuat pembaca harus membaca keseluruhan cerita. Tapi buku dengan tebal tidak sampai 100 halaman ini patut untuk dibaca karena setiap cerita memberikan keseruannya masing-masing.

***

Mari kita mulai dengan "14th Guardian" karya Ratih Febiyanti sebagai penulis dan Yuda Nurul Falah sebagai komikus. Disampaikan dalam bentuk komik tidak membuat cerita yang diusung Ratih mengganggu. Begini, aku ada masalah dengan buku yang memiliki porsi gambarnya lebih dominan ketimbang teksnya, seperti komik. Setiap membaca komik dan sejenisnya, aku merasa imajinasiku terkungkung dalam gambar yang disediakan. Ini yang menjadi alasanku tidak menyukai komik. Entah kenapa, gambar komik pada "14th Guardian" malah membantu mengimajinasikan cerita yang dituturkan Ratih. Dan cerita inilah yang paling favorit dari cerita lainnya pada buku ini.

Selanjutnya ada cerpen berjudul "Apartemen Nomor 17" karya Nurlailan Syahara. Cerita yang diusung sudah terasa mencekam sejak awal. Apalagi penulis memberikan tanda tanya besar tentang siapa yang menghuni apartemen itu dan apa yang dilakukannya. Lalu misteri tentang kenapa apartemen itu hanya terlihat pada malam hari saja. Sayangnya, ceritanya begitu singkat. Mungkin penulis bisa mengeksplor lebih jauh lagi tentang ceritanya karena ide ceritanya sudah bagus.

Tiga cerita lainnya berjudul "Satu" karya Dwi Pratiwi, "Angka Dadu ke-7" karya Rifqa Amalia Azzyati & Adhi Kurniawan, dan "Area 8" karya Rahmaniar Indah Azzura memberikan kisah-kisah yang berbeda walaupun beberapa di antaranya tidak begitu mudah untuk dimengerti karena pendeskripsian ceritanya minim. Tapi aku yakin semua penulis pada buku ini memiliki peluang lebih besar menjadi penulis kondang suatu saat nanti. Kuncinya hanya satu: teruslah berlatih.

Akhir kata, aku suka dengan hadirnya buku ini. Ceritanya begitu ringan dan menyenangkan. Dan aku bisa masukkan buku ini pada kategori remaja (young adult) karena karakter yang diceritakan memang cocok. Dengan jumlah halaman yang minim, buku ini bisa menjadi pilihan bacaan saat menunggu seseorang atau ketika beranjak tidur. Tapi hati-hati, cerpen terakhir di dalamnya akan sedikit membuat bulu kudukmu berdiri. Selamat membaca!

Ulasan ini untuk tantangan Young Adult Reading Challenge 2016.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Back to Top