06 April 2016

Ulasan Buku: Der Boxer

Sampul
Judul : Sang Petinju
Judul Asli : Der Boxer
Pengarang : Reinhard Kleist
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2015
Dibaca : 6 April 2016
Rating : ★★★★

"Tuhan? Lihatlah sekelilingmu. Apakah kau akan membiarkan hal seperti ini, jika memang kau ada?" (hal. 67)

Aku tertarik dengan buku ini karena tagline pada sampul depan buku. Di situ tertulis "Kisah Menyentuh tentang Cinta dan Semangat Hidup". Awalnya aku berniat membeli, tapi karena harganya yang tidak pas dengan kantong, aku meminjamnya saja pada teman. Dan aku setuju dengan tagline itu. Buku ini menyentuh. Buku ini tentang cinta. Buku ini tentang semangat hidup.

***

Harry Haft yang berumur 14 tahun secara tidak sengaja menukarkan dirinya dengan sang kakak ketika ada pendaftaran penempatan kerja yang membuatnya berpisah dengan keluarganya. Mulai saat itu, kehidupan pilunya dimulai. Ia menjadi tahanan Nazi Jerman. Ia digunduli. Ia dipaksa kerja dan terus kerja sampai tubuhnya bersisa tulang berbalut kulit. Tak ada harapan lagi, ia tidak akan hidup lebih lama.

Tapi jalan selalu ada. Harry diminta untuk menjadi petinju. Walaupun saat itu hanya untuk hiburan bagi para perwira-perwira SS. Hingga akhirnya ia kabur dan pergi ke Amerika. Ia selalu ingat satu hal. Hal yang membuatnya terus berjuang untuk bisa bertemu kembali dengan seseorang. Kekasih yang ingin dinikahinya saat remaja dulu. Peah Pablanski namanya.

***

Gambar suram nan apik menemaniku mengikuti kisah Harry Haft yang memilukan. Aku yakin pembaca akan merasa biasa saja dan tidak emosional jika saja grafisnya tidak seperti itu. Walaupun tidak begitu detail dalam guratannya, rasa memilukan dan menyentuh yang menjadi pesan utama dalam buku ini bisa tersampaikan melalui gambar-gambar itu.


halaman 143
Satu hal yang menjadi pertanyaan dari awal: apa sih SS itu? SS kepanjangan dari Schutzstafell yang merupakan pasukan tentara Nazi Jerman bikinan Adolf Hitler pada masa Perang Dunia II. SS ditugaskan membunuh warga sipil, khususnya orang Yahudi, di negara-negara yang dikuasai Jerman pada Perang Dunia II, termasuk Belchatow, Polandia, yang merupakan kota keluarga Haft. Setelah ditelusuri lebih lanjut tentang kondisi para tahanan Nazi Jerman, gambar-gambar penulis pada buku ini masih lebih baik daripada yang sebenarnya. Mereka benar-benar seperti tengkorak hidup; tulang berbalut kulit.

Terlepas dari itu, kisah Harry Haft memang menyentuh; terutama kisah cintanya. Peah sang pujaan hati yang menjadi semangat hidupnya terus mondar-mandir dalam setiap perjalanannya. Setelah tiba di tanah Amerika, Harry bertekad untuk mencarinya dengan menjadi terkenal sebagai petinju dan masuk koran. Dan akhir yang benar-benar menyentuh itu menutup perjalanan Harry Haft. Kau harus mencari tahunya sendiri.

Buku ini ditutup dengan artikel tentang Harry Haft, yang menurutku, pasti terkenal pada masanya. Banyak media meliput bahkan ketika ia kencan pertama dengan seorang wanita. Tidak ketinggalan cerita tentang petinju-petinju lain yang kolomnya diberi judul "Juara yang Terlupakan". Sungguh cerita yang menyentuh dan memilukan.


"Aku sekarang kepala keluarga, membesarkan tiga anak. Perlahan ingatanku akan Leah memudar... Namun tidak sirna sepenuhnya." (hal. 176

Ulasan menjadi #ResensiPilihan Gramedia pada minggu kedua April 2016 (12 April 2016).

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Back to Top