31 Desember 2014

The Blood of Olympus

Sampul
Judul : The Blood of Olympus (The Heroes of Olympus #5)
Pengarang : Rick Riordan
Penerbit : Mizan Fantasi (Noura Books)
Tahun : 2014
Dibaca : 25 Desember 2014
Rating : ★★★★★

"Bangsa Yunani dan Romawi bergerak bersama-sama, berdiri bersisian sementara bumi berguncang di sekeliling mereka." (hal. 444)

Pernyataan di atas menjelaskan betapa serunya novel pamungkas ini. Aku ingat ketika pertama kali membeli The Lost Hero sekitar dua tahun lalu. Serial ini membuatku langsung jatuh cinta dengan genre fantasi.

Untuk penutup serial, buku ini menjadi biasa mengingat pada buku-buku sebelumnya ketujuh demigod terlihat bersusah payah untuk menuntaskan misi. Aku tidak akan menyalahkan siapa pun, apalagi om Rick. Aku tahu memang sudah seharusnya segala yang berada di akhir akan menjadi penutup yang indah. Apalagi kisah yang notabene ditujukan bagi remaja tanggung yang sedang membutuhkan petuah-petuah kehidupan untuk tidak salah jalur.

Nico di Angelo
Tapi, aku benar-benar menikmati kisah di buku terakhir ini. Apalagi ada Nico dan Reyna yang bercerita di dalamnya. Entahlah, kisah Nico menjadi favorit buatku. Apalagi pengakuan mencengangkannya yang membuat pembaca harus mengerti dan berempati padanya. Aku jadi lebih tahu bagaimana perasaannya ketika om Rick memberikannya kesempatan bertutur kata. Aku amat senang.

Dan tentang dewa-dewi yang membantu ketujuh demigod di Akropolis, itu bagian yang tak boleh dilewatkan! Semua bersatu melawan para raksasa dan Ibu Bumi Gaea yang tengah terbangun. Darah Olympus benar-benar telah tumpah.

***

Selanjutnya, aku tidak akan mengupas lebih lanjut tentang buku ini. Beberapa waktu lalu aku mengobrol virtual dengan teman sesama pecinta novel fantasi, tapi sayangnya dia belum membaca buku-buku Rick Riordan. Dia bilang bahwa mitologi yang sudah ada sejak zaman dahulu seharusnya dibiarkan seperti itu tanpa dicampuri hal-hal lain.

Aku tahu dia penyuka buku anak-anak dan klasik. Aku pikir itu menjadi patokannya untuk membaca kisah mitologi yang semestinya tetap seperti itu sampai kapan pun. Mungkin dia ada benarnya, dalam konteks serial ini. Bagaimana mungkin Bangsa Yunani dan Romawi bersatu untuk satu tujuan? Bagaimana bisa dewa-dewi yang sakral berbicara dengan anak demigodnya? Bukankah suatu pelecehan jika dewa-dewi memiliki anak karena berhubungan dengan manusia? Menurut kalian?

***

Ini menarik karena aku suka dengan perubahan-perubahan. Aku tidak sempat memikirkan hal-hal di atas. Aku membaca karena aku membutuhkan informasi dari buku. Dan aku memang mendapatkan banyak informasi tentang dewa-dewi Yunani dan Romawi serta kisah masing-masing dari mereka. Juga Hercules dan Achilles; Pobos dan Deimos yang terdapat di dalamnya.

The Colosseum
Beberapa lokasi juga memberiku wawasan geografis seperti Gibraltar dan kawasan-kawasan di Yunani dan Italia yang terdapat peninggalan-peninggalan sejarah dan kisah di baliknya. Dan pelajaran-pelajaran tersirat dari para demigod ini? Bagaimana aku luput untuk membaca buku-buku om Rick?

"Aku tahu. Perasaan tidak bisa direncanakan. Sama seperti Percy, juga masa depanmu—kau tidak bisa mengontrol semuanya. Hal-hal yang tak diinginkan memang mungkin terjadi. Kau harus menerimanya. Biarkan dirimu merasa takut karenanya. Percayalah bahwa pada akhirnya, semua akan baik-baik saja.” —Piper (hal.211)

Seri sebelumnya: The House of Hades (The Heroes of Olympus #4)

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Back to Top