09 September 2014

The Prophet

Sampul
Judul : Almustafa
Judul Asli : The Prophet
Pengarang : Kahlil Gibran
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun : 2011
Dibaca : 6 September 2014
Rating : ★★★★

Bisa dibilang, kisah klasik memiliki keindahan tersendiri dalam berbahasa. Seperti ada yang tidak terjamahkan oleh orang-orang masa kini; misterius. Itulah yang aku suka dengan kisah klasik. Dan begitu pula dengan buku ini.

Aku tahu buku ini sepertinya tidak begitu tebal, memang, hampir semua buku klasik di awal abad 19 tidak begitu tebal; seperti Just So StoriesThe Strange Case of Dr. Jekyll & Mr. Hyde, dan Siddhartha. Isinya yang aku tidak tahu; ternyata sajak-sajak penuh metafora yang sangat indah. Seperti kalimat-kalimat terkenal: "anakmu bukan anakmu" dan "mereka adalah putra putri kerinduan kehidupan terhadap dirinya sendiri".

Kebanyakan sajak selalu seperti puisi yang hanya berisi beberapa bait dan selesai. Berbeda dengan buku ini, sajaknya dimulai dengan kisah seorang manusia yang bisa disebut nabi atau pembawa wahyu, yang sepertinya akan pulang ke tempat asalnya tetapi terhenti karena setiap orang di Orphalese, tempatnya sekarang, menginginkannya tinggal.

***

Kahlil Gibran (1883-1931)
Aku sempat berpikir kalau buku ini termasuk buku musyrik karena penulis membuat suatu karakter yang amat sangat dipuja dalam buku. Tapi ini hanya buku kan? Dan ini bukan kitab atau pedoman hidup, ini hanya kumpulan sajak-sajak yang dapat mengajarkan untuk hidup baik. Dan itulah cerdasnya penulis, sangat mempengaruhi pembaca untuk terus merenung dengan tulisannya.

Menarik bukan?
Yang sedikit membuatku bertanya-tanya adalah tentang ilustrasi-ilustrasi yang ada dalam buku ini. Apakah mereka eksis dari awal buku ini terbit sekitar tahun 1923 atau mereka hanya ada dalam edisi terjemahan. Bukan masalah, tapi aku ingin tahu saja....
"Kau adalah busur yang meluncurkan anak-anakmu sebagai panah hidup.

Pemanah mengetahui sasaran di jalan yang tidak terhingga, dan Ia melengkungkanmu sekuat tenaga-Nya agar anak panah melesat cepat dan jauh.

Biarlah tubuhmu yang melengkung di tangannya merupakan kegembiraan,

Sebab seperti cinta-Nya terhadap anak panah yang melesat, Ia pun mencintai busur yang kuat." (hal. 22-23)

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Back to Top