16 Februari 2014

Silver Phoenix

Sampul
Judul : Silver Phoenix
Pengarang : Cindy Pon
Penerbit : Mahda Books
Tahun : 2009
Dibaca : 14 Februari 2014
Rating : ★★

Nah, begini. Ini adalah novel fantasi bangsa Timur pertama yang aku baca dan ini juga adalah novel dengan kisah romansa tidak kental tetapi memikat yang aku sukai. Tidak banyak novel dengan kisah romansa yang aku suka. Tapi, akhir-akhir ini aku mendapatkannya. Atau mungkin aku memang sedang berjalan menuju menyukai kisah romansa. Entahlah.

Awalnya aku pikir novel ini bercerita tentang perempuan dan naga peliharaannya-mengingat di setiap babnya terdapat ilustrasi naga; atau perempuan yang menjelma menjadi phoenix.

That Dragon!
Opsi yang kedua ada benarnya, tapi tidak seluruhnya benar. Karena perempuan, atau disebut gadis karena umurnya 17 bernama Ai Ling ini adalah hasil reinkernasi seorang atau seekor Silver Phoenix. Tapi asal-usul Silver Phoenix ini tidak diceritakan secara gamblang dalam novel.

Kita akan membicarakan Ai Ling, seorang gadis yang hidup di Negeri Xian. Di usianya yang beranjak dewasa Ai Ling dihadapkan dalam perjodohan yang memuakkan. Ai Ling tidak menyukainya, tentu saja. Ai Ling juga berpikir bahwa dirinya masih belum siap untuk hidup bersama laki-laki lain selain ayahnya.

Negeri Xian. Negeri dimana kerajaan menjadi pusat pemerintahan. Negeri dimana mitos-mitos leluhur masih dipercaya sebagian rakyatnya. Negeri dimana Buku Kematian dan Buku Negeri-Negeri di Atas masih disimpan di rak-rak tersembunyi. Negeri dimana Ai Ling harus menempuh perjalanan untuk mencari ayahnya, Master Wen.

Master Wen adalah mantan cendekiawan Istana; seorang penasihat kerajaan Xian pada masa itu. Master Wen akan melakukan perjalanan singkat ke Istana yang ujarnya tidak memakan waktu lebih dari dua bulan untuk kembali. Tapi sudah berbulan-bulan sejak saat itu, Ai Ling merasa ada yang tidak beres dan harus menyusul.

Dengan setengah hati, Ai Ling meninggalkan ibunya di rumah. Ai Ling memantapkan diri dan pergi. Singkat cerita, Ai Ling bertemu Chen Yong, pria 18 tahun di tengah perjalanan. Nah, nah, kalian sudah menebak-nebak kelanjutannya. Mereka memiliki satu tujuan yang sama: Istana. Tetapi dengan misi yang berbeda: Chen Yong ingin mencari tahu tentang asal-usul orang tuanya.

Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan hal-hal aneh dan menakjubkan. Seperti Negeri di Atas Awan yang benar-benar ada, dengan Naga Putih yang mengantarkan mereka kesana. Mereka bertemu seorang Dewi dan Makhluk Abadi lainnya. Menyenangkan, tapi juga berisiko.

“Hidup melebihi kehidupan yang diberikan kita adalah tindakan yang salah.” (hal. 341)

Sebenarnya ide cerita dan misi tokoh yang penulis buat cukup sederhana. Tetapi intrik dan improvisasi yang penulis bangun sangat memikat. Kalian tahu, bila kalian sedang dalam perjalanan pulang kampung dan melihat pemandangan indah dalam perjalanan sehingga melupakan waktu; tahu-tahu kalian sampai ke tempat tujuan. Seperti itulah…

Selain itu, kisah ini memberikan pengetahuan tentang kehidupan di negeri Timur. Banyak makanan dan tanaman-tanaman disebutkan di sela-sela cerita. Dan itu… sangat terdeskripsi dengan jelas. Makanan yang diceritakan membuatku lapar dan ingin melahapnya. Tanaman yang disinggung membuatku seolah mencium bau harumnya.

Ah, seperti inilah sebenarnya penulis yang cerdas! Membuat pembaca nyaman dan ingin terus membaca hingga akhir. Dan kisah cintanya Ai Ling… Tidak mungkin Ai Ling menyukai Chen Yong karena dia tidak menyatakannya. Tapi, siapa tahu isi hati seseorang?

Good work, Ms. Pon!

Her another good work: cindypon.com

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Back to Top